Rabu, 09 Juli 2008

Kenapa Musti Bersedih ¿

Kenapa Musti Bersedih ¿

Baru beberapa hari aku ditempat baru rasanya sudah lama sekali, mungkin karena masih ‘home sick’ kali ya, g tau jg. Tapi bener-bener hari itu aku merasa sangat jauh dengan orang-orang yang ku sayangi.

Pengen curhat, mo ngomong ke sapa y ¿ ntahlah aku seperti kehilangan arah, lupa akan tujuan aku dating ke tempat ini –ayolah ada g y yg ingetin-, ku coba mengadu kepadaNYA tapi malah peluhku mengalir membasahi pipiku, saat itu kalo di kamar bisa lebih puas kali -inginq- tapi masih di tempat umum so kutahan-tahan agar tak keluar tapi malah sesak aku rasakan. Kenapa ya aku tidak langsung isa tinggal ditempat baru?

Aku takut klo aku g bisa mengatur diriku, mengatur inginku dan mengatur emosiku. Aku takut ‘lari’ yup lari ke hal yang enggak-enggak. Aku takut mengecewakan orang yang sudah menaruh harapan padaku, yang sudah banyak berpesan kepadaku, ‘nak hati-hati yo’,’disana jaga diri y’, dan masih banyak pesan yang terngiang, aku takut lupa diri, takut tak bisa jaga diri, takut kecewakan mereka semua orang-orang yang aku sayangi.

Tapi aku teringat setiap garis ato jalan yang telah dibuatNYA tentu ada ‘rambu-rambunya’, ada tempat singgahnya, tempat mengisi energi dan tempat beristirahat. Jadi kenapa musti berontak, kenapa musti melawan, yuuk syukuri semua yang ada, yang kita singgahi, yang kita miliki. Dan semoga DIA selalu menuntun kita untuk menyusuri jalanNYA dengan tetap bersabar dan istiqomah, dan semoga kita sampai ke tempat tujuan yang seharusnya. Karena kita tidak sendiri melewati jalan ini. Ada teman seperjalanan yang bisa diajak untuk berbagi dan member i,

so don’t give up

my star get rising brightly

^_^

Selasa, 01 Juli 2008

Awal Perjalanan di tempat baru

Tempat yang sebelumnya belum pernah Q bayangkan, belum tau dimana malah mungkin belum pernah qdengar kini aku kunjungi, ya daerah tanjung balai karimun, sebuah pulau diantara banyak pulau di Kepulauan Riau. Aku kini berada di Karimun.
Banyak hal baru yang mungkin hanya seujung jari dari banyak hal tentang karimun yang ku ketahui, bukan saja aku harus isa merasa betah, tapi aku juga harus bisa segera menyesuaikan diri untuk dapat terus tersenyum, membagi keceriaan dengan orang-orang yang aku sayangi, berbagi cerita.
Pertama mendarat di pulau ini aku merasa “koq suasananya beda ya” tidak familiar bagi ku. Udaranya panas, bahasanya campur-campur, ada melayu, mandarin entahlah mungkin aku belum terbiasa. Beberapa orang kawan yang sudah lebih dulu mendarat di pulau ini menjemput kami, mengantarkan kami untuk sergera mengenal daerah baru ini, mencari tempat tinggal, keliling2 kampung dan cara bersosialisasi dengan masyarakat.
Aku pun segera berusaha untuk bisa menyesuaikan diri, karena ku akui pertama kali datang aku merasa sedih, rasanya pengen nangis jauh dari orang2 yang aku sayangi, tapi apa boleh dikata beberapa tahun ini aku akan tinggal disini.
Aku datangi masjid untuk menemui saudara2q seiman mungkin mereka bisa sedikit membantuq, ya paling tidak memberi semangat,yup dan aku merasakan sesuatu yang berbeda, aku dah bisa sedikit lega karena saudara2q itu orang2nya ramah dan supel. Inilah nikmat dariNYA ketika menentukan takdir hambaNYA tentu Dia akan bimbing dan diberi kemudahan-kemudahan, Alhamdulillah.
Di pulau ini, dengan cuacanya yang panas, air bersih susah, makanan dan barang-barang lainnya mahal, bila dibandingkan dengan tempat aku menyusun impi kami, aku harus isa berjuang untuk mencapai mimpi-mimpiku, yuup mimpi-mimpiq bersama bintangq. Aku tidak ingin mencari-cari alasan untuk membenarkan kemunduran ato kegagalan, aku pengen maju dan terus berkembang, klo seorang murid yang pengen naik kelas harus diuji, maka aku harus siap dengan tantangan dan ujian yang kan ku lewati nantinya, karena aku ingin ‘naik kelas’, terlalu optimiskan¿ tapi aku harus yakin dengan ‘gari-garis tanganq’, so tetap ‘bergerak dan terus berjalan’
Berbagai kemudahan yang aku dapatkan harus segera aku jadikan peluang untuk menjadi sesuatu yang lebih baik sebelum datangnya masa-masa sempit, tidak hanya menghabiskan waktu seperti di tempat lamaku dulu yang hanya bermalas-malasan, melakukan hal-hal yang tidak penting, aku harus bisa membuat sesuatu yang berarti, bisa bermanfaat dan tentunya bisa diperhitungkan nantinya di akhirat. Tetapi terkadang semangat yang berkobar akan segera memudar klo orang jawa bilang ‘obor-obor blarak’ nyalanya besar di awal tetapi mulai meredup dan akhirnya padam. Aku tidak ingin seperti itu. Aku akan berbagi dan berharap ada yang mau terus temani dan terus membantuku untuk memelihara ‘nyala’ ini. Untuk tetap berkobar memberikan cahaya dan kehangatan begi sekelilingnya, untuk bisa saling memberi dan berbagi

Tanjung Balai Karimun, 30 Juni 2008
dim to bright